ANTARA PASSION DAN SEKOLAH

Oleh: Gagah Al-Haqqi

Dalam perjalanan seorang siswa menempuh pendidikan, tidak sedikit yang menemukan satu hal yang membuatnya merasa “hidup”. Bagi sebagian, itu bisa berupa menggambar, bermusik, menulis, membuat video, atau bahkan sekadar merancang desain di laptop pribadi intinya apaun itu yang berkaitan erat dengan kreativitas. Uniknya kebanyakan aktivitas itu seringkali bukan bagian dari mata pelajaran inti, namun justru menjadi sumber semangat dan rasa percaya diri mereka.

Di sisi lain, sekolah sebagai institusi pendidikan formal memiliki kurikulum dan standar tertentu yang harus dipenuhi. Sistem ini dibangun untuk memberikan fondasi akademik yang merata, agar semua siswa memiliki bekal dasar yang sama. Namun dalam praktiknya, sistem ini kadang belum sepenuhnya memberi ruang bagi keragaman potensi dan minat siswa. bukan berarti sekolah sengaja mematikan kreativitas atau passion siswa. Hanya saja, dalam upaya mengejar target nilai dan kelulusan, potensi yang berada di luar jalur akademik utama seringkali kurang terlihat. Akibatnya, ada siswa yang mulai mempertanyakan nilai dari apa yang mereka sukai. Beberapa bahkan mulai meninggalkan passion-nya karena merasa itu bukan bagian dari “kehidupan sekolah yang serius”.

Padahal, dunia luar sekolah justru sangat menghargai kreativitas, keunikan, dan keahlian spesifik yang sering kali tumbuh dari passion. Banyak profesi masa kini yang tidak hanya membutuhkan kecerdasan logika, tetapi juga kemampuan berpikir kreatif, komunikasi visual, dan empati. Hal-hal tersebut tidak selalu hadir dari buku pelajaran, tapi tumbuh dari aktivitas yang digemari dan ditekuni secara konsisten.

v Apa itu passion ?

Apa itu passion? passion dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti gairah,emosi atau kegembiraan. Menurut Professor J Vallerand passion adalah gairah besar untuk melakukan sesuatu yang ia sukai/dianggap penting. adakah akativitas yang membuat kita senang ketika melakukannya dan kita selalu fokus apabila mengerjakan itu,seolah kita siap melakukan hal itu tanpa imbalan.

Ya itulah passion, dia selalu membangkitkan rasa antusias tingkat tinggi.Contohnya, sebut saja si A tergolong siswa yang biasa saja, tidak banyak terlibat dikelas, tidak ada riwayat prestasi apaun, nilainya pun tidak menonjol. Tapi dibalik itu ia menyukai dunia editing, ia sangat mencintai ilustrasi digital, apakah ia belajar hal itu di kelas? Tentu saja tidak, ia belajar otodidak dari internet, melihat video tutorial di youtube, ia juga masuk kedalam komunitas editor di sosial media bahkan ia sampai mengikuti lomba desain online untuk mengukur kemampuannya.

v Apakah Sekolah Membunuh Passion ?

Pertanyaan ini sering muncul di kepala banyak siswa, terutama mereka yang merasa bahwa minat dan bakatnya tidak mendapatkan tempat di ruang kelas. Beberapa bahkan mulai percaya bahwa sekolah justru menjauhkan mereka dari apa yang benar-benar mereka sukai.

Benarkah sekolah membunuh kreativitas?

Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Sekolah sejatinya adalah ruang pembelajaran yang dirancang untuk memberi bekal dasar kehidupan. Namun dalam perjalanannya, sistem pendidikan sering kali lebih fokus pada penilaian, angka, dan keseragaman. Hal inilah yang membuat kreativitas seolah tidak terlihat, apalagi dipelihara.

Tapi penting juga untuk melihat bahwa sekolah bukan satu-satunya pihak yang bisa disalahkan. Ada kurikulum yang kompleks, tuntutan administratif, dan tantangan menyamaratakan pendidikan bagi ribuan siswa. Di tengah keterbatasan ini, tidak semua potensi bisa dijangkau secara personal.

Namun, bukan berarti passion harus ditinggalkan. Justru inilah waktunya untuk membuka wacana: bagaimana instansi pendidikan bisa lebih mewadahi bagi siswa seperti ini yang tidak hanya menilai dari hafalan, tapi juga mengapresiasi minat dan keunikan.

Teruntuk kalian para siswa, lakukan dengan konsisten apa yang menjadi passion kalian.susun menjadi goals-goals kecil bila perlu. Jangan haus validasi untuk merasa sah. Jika kamu tahu apa yang membuatmu semangat, kejar itu, pelajari itu, dan buktikan bahwa passion bisa hidup berdampingan dengan tanggung jawab pendidikan. Dan bagi sistem pendidikan, ini adalah PR kita bersama untuk terus memperbaiki secara stimulan. Karena masa depan bukan hanya milik mereka yang hafal rumus, tapi juga milik mereka yang tahu siapa diri mereka.